Lombok
memiliki budaya dan tradisi kearifan lokal yang sangat terekenal sehingga dapat
bersaing di dunia. Salah satu budaya tersebut ialah Peresean. Peresean ini
merupakan sebuah kebudayaan tradisional yang berasal dari nenek moyang atau
leluhur orang sasak yang turun-temurun sehingga masih kita jumpai sampai detik
ini. Peresean ini juga merupakan seni bela diri yang memperlihatkan bagaimana
seseorang diuji kekuatannya dalam sebuah pertempuran. Seni bela diri ini
(peresean) pada mulanya merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh raja-raja
sasak dahulu sebagai pelampiasan emosi kepada penjajah setelah memenangkan
peperangan. Konon, dahulu peresean juga dijadikan sebagai upacara doa untuk
meminta hujan ketika terjadi musim kemarau. Masyarakat sasak sangat mempercayai
bahwa darah yang keluar dari kepala (bocor) itu akan dapat menurunkan hujan
karena dengan anggapan Tuhan akan mengasihani orang-orang yang luka/menderita
tadi sehigga turunlah karunia berupa hujan. Oleh karena itulah peresean
biassanya dilakukan ketika musim kemarau melanda. Namun seiring berjalannya
waktu, peresean ini sering dilakukan tidak hanya ketika musim kemarau terjadi,
akan tetapi juga dilakukan dalam acara tertentu, bahkan pada zaman sekarang ini
tradisi ini juga diperlombakan.
Presean
adalah pertarungan yang dilakukan oleh dua orang lelaki yang bersenjatakan tongkat
yang terbuat dari rotan (disebut penjalin dalam Bahasa Sasak) dan perisai yang
terbuat dari kulit binatang yang tebal dan keras (disebut Ende dalam Bahasa
Sasak). Petarung tersebut disebut sebagai
pepadu dan dipimpin oleh seorang wasit yang disebut pakembar. Peratandingan presean ini dapat dilakukan oleh siapapun
yang ada di tempat berlangsungnya pertandingan (kerumunan orang) tersebut. Cara
pelaksanaannya sangat sederhana yaitu dilakukan di sebuah lapangan yang
kemudian para warga akan membuat sebuah lingkaran sebagai tempat area
pertandingan. Biasanya pakembar memilih siapa saja yg ada di kerumunan tersebut
dan mencarikan lawan yang sesuai dengan orang yang dipilihnya. Bagi lelaki yang
dipilih tidak harus untuk menyetujui jika ia ditunjuk untuk beradu. Jika ia
berani maka pakembar akan menunjuk lawan yang dipilih dalam kerumunnan itu
juga. Tidak hanya dipilih oleh pakembar, bagi siapapun yang mengajukan dirinya untuk
bertaarung akan diperbolehkan untuk mengajukan diri dan menantang lawannya. Pertandingan
ini memiliki lima ronde yang akan dilalui oleh para pepadu. Para pepadu yang sudah
terpilih berada di tengah-tengah arena kemudian dipakaikan sebuah sarung khas
Sasak dan ikat kepala yang sudah disiapkan oleh panitia. Penjalin yang disiapkan
akan dipegang oleh para pepadu di tangan kanan dan Ende di tangan kiri sebagai
penangkis. Saat pertandingan berlangsung diiringi oleh music khas suku sasak
yang dipercaya dapat membangkitkan mental ataupun adrenalin para pepadu yang
bertanding. Dengan iringan music tersebut sering kali para pepadu yang bertanding
melakukan gerakan-gerakan menari mengikuti irama musik khas tersebut kmudian
bertarung lagi saling serang. Para pepadu tersebut ketika bertarung hanya
diperbolehkan memukul bagian perut ke atas, yaitu perut, pundak dan kepala. Pepadu
akan deapat poin besar jika bisa mengenai kepala lawan, maka tidak heran dalam
pertandingan ini yang lebih banyak diincar sebagai sasaran utama adalah bagian
kepala. Ketika salah satu pepadu dapat mengenai kepala lawan, apalagi sampai mengeluarkan
darah (bocor dalam Bahasa Sasak), maka pakembar akan meniup peluit Panjang tanda
pertandingan usai dan menemukan pemenang dalam pertandingan tersebut.
Walaupun
Presean ini terdapat/ menggambarkan unsur kekerasan, akan tetapi jauh di
dalamnya terdapat berjuta makna, salah satunya yaitu pesan damai. Setiap petarung
yang ikut dalam kontes pertarungan ini dituntut untuk memiliki jiwa damai,
pemberani, tangkas dan tidak pendendam. Oleh karena itulah orang-orang yang
ikut serta dalam Presean ini disebut sebagai orang-orang yang bermental baja.
Kesan
yang saya dapatkan ketika menyaksikan pertunjukan ini adalah bagaimana
seseorang ditempa keberaniannya dalam kondisi apapun sehinngga kita menjadi
benar-benar siap untuk menghdapinya kapanpun. Baik mental, jiwa, raga yang sangat
kuat tampak melekat pada diri pepadu sehinga keberanian terseebut muncul dalam
penglihatan orang yang menyaksikan, khususnya saya pribadi. Oleh karena itu,
sebagai penduduk Sasak, kita harus menjaga dan melestarikan tradisi ini sebagai
wujud penghormatan kepada leluhur dan sebagai ajang menempa jiwa dan raga kita
sehingga kita akan siap dalam situasi apapun.



12 komentar:
Informasi yang menarik
Sangat menarik
Terbaik dari segala yg terbaik
Ea ea ea
Terbaik, info yg bermanfaat
Kearifan lokal harus dilestarikan dan dijaga
Salam bajak sasak
Mantap infonya sangat bermanfaat..
Bagus sekali tulisan ini . Sangat bermanfaat .
Keren tu bro, jadi pengen ke lombok___
Sangat bermanfaat
Terima kasih informasinya
Mari kita lestarikan.
Posting Komentar