salam sejahtera untuk kita semua!
hai hai hai........ kali ini saya akan membagikan sobat semua sebuah postingan yang wajib sobat ketahui, yaitu Tradisi Nyongkolan yang ada di Gumi Sasak.
berikut uraian ane tentang Nyongkolan
Nyongkolan berasal dari kata songkol atau sondol yang berarti mendorong dari belakang atau bisa diartikan secara kasar berarti menggiring (mengiring ) . Nyongkolan
merupakan sebuah adat yang ada di gumi sasak yang dilakukan oleh
sepasang suami istri yang telah melakukan akad nikah. Nyongkolan adalah prosesi adat yang dijalankan apabila adanya proses pernikahan antara Laki-Laki (Terune) dan Perempuan (Dedare)
di dalam suku Sasak. Biasanya nyongkolan akan dilaksanakan setelah
proses akad nikah, untuk waktu bisa ditentukan oleh kedua belah pihak.
Ada yang meringkas dalam satu waktu ada pula yang akan melakukan
nyongkolan seminggu setelah proses akad nikah dilaksanakan. Nyongkolan ini bertujuan
untuk menyebar luaskan informasi mengenai pernikahan kedua pasangan kepada
khallayak. Dengan adanya proses nyongkolan ini, pasangan yang menikah akan
melakukan prosesi nyongkolan dengan tujuan supaya semua orang tahu bahwa
dirinya sudah resmi menjadi pasangan kekasih. Namun pada zaman modern ini, adat
nyongkolan sudah mulai dikesampingkan dari rangkaian prosesi pernikahan. Banyak
orang pada zaman sekarang ini beranggapan bahwa nyongkolan pada dasarnya ada
pada zaman dahulu hanya untuk memberitakan dirinya kepada masyarakat bahwa
dirinya sudah menikah karena belum ada buku nikah. Mereka beranggapan bahwa
nyongkolan tidak perlulagi diadakan
karena sudah ada buku nikah sebagai bukti bahwa dirinya sudah menikah dan lebih
memilih merayakan pernikahannya dengan resepsi (pesta).
Nyongkolan
dilakukan (sesuai kesepakatan kedua
belah pihak) setelah melakukan akad nikah, apakah sebulan setelah akad nikah maupun
kesepakatan yang telah dibuat. Ada juga proses nyongkolan ini tidak
dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Adat Nyongkolan
dilakukan untuk mengantar pulang si wanita ke orang tuanya (rumah). Proses
nyongkolan dilakukan dari rumah pengantin pria menuju rumah pengantin wanita. Sebelum
proses berjalan mengantar pengantin wanita ke rumahnya, dari pihak pria
mengirim utusan ke pihak wanita. Orang yang diutus tersebut disebut “pewacane” . pewacane ini diiringi oleh
“pembayun”untuk menghadap pihak keluarga pengantin wanita. Pembayun ini adalah
orang yang membawa “andang-andang” (barang-barang) yang mencerminkan bagaimana
sosok pengantin pria. Jika pengantin pria adalah seorang petani, maka pembayun
ini biasanya membawa hasil-hasil pertanian sehingga dapat menggambarkan bagaimana
sosok pria yang akan menhadap dirinya bersama anakanya. Proses wacane ini
berlangsung sampai dengan menemukan kesepakatan anatara pihak keluarga
pengantin wanita dengan utusan yang dikirim oleh pengantin pria. Ketika sudah
menemukan kesepakatan, maka utusan (pewacane dan pembayun) menghubungi pihak
pengantin pria untuk mulai melakukan perjalanan mengantarkan pengantin wanita
ke rumahnya.
Proses
nyongkolan ini menggunakan pakaian adat yang di sebut dengan “godek nungkek”.
Namun pada zaman sekarang banyak orang yang hanya memakai kaos hitam dan kereng/songket
(sarung adat) saja tanpa mengetahui apa makna sebenarnya dari pakaian adat yang
seharusnya dipakai. Ketika proses nyongkolan (berjalan menuju rumah pengantin
wanita) sudah dekat dengan rumah pengantin wanita, dari pihak pengantin wanita
akan menyambut rombongan tersebut dengan membawa andang-andan berupa makanan,
minuman dan barang sejenisnya untuk saling tukar dengan bawaan dari pihak pria
sekaligus bergabung ke dalam rombongan. Ketika proses tersebut berlangsung,
juga terjadi proses “sorong serah aji kerame”. “sorong” artinya membawa kembali
pengantin wannita kepada orang tuanya, “serah” artinya orang tua pengantin
wanita merelakan anak perempuannya untuk dibawa oleh suaminya, “aji” artinya
kesepakatan yang telah disepakati antara pihak pria dan wanita mengenai
pernikahan baik berupa biaya maupun kesepakatan yang lainnya, dan “kerame”
artinya bahwa prosesi pernikahan tersebut berdasarkan tata krama yang baik dan
luhur. Setelah proses sorong serah aji kerame sudah selesai, maka pihak kelurga
pengantin wanita menerima rombongan tersebut, kemudian bersua dan melepas rindu
antar pengantin wanita dengan orang tuanya. Seusai melakukan hal tersebut,
pengantin kemudian pulang kembali ke rumah pengantin laki-laki, sehinngga menandakan
prosesi nyongkolan tersebut sudah berakhir.
Narasumber:
1. Roby Mandalika Waluyan
2. Cintopa Satria Ade Pradana
20 komentar:
Hallo ben.
Saran dikit aja, klo dh sobat2 ga perlu d tambahkan semuanya😋
Setuju
Mantappp
Bermanfaat
Lestarikan
postingannya bermanfaat akhii
Mantep
keren tulisannya
Bagus emang tradisi sasak.... sakral bangett
Informasi yang bermanfaat
Bagus sekali.
Salam budaya.
Mari lestrikan bdaya kita
Super
Sangat bermanfaat
Makasih infonyaa
Terima kasih... Sngat bermanfaat
Mantap n bermanfaat
Smga bermanfaat
Makasih informasinya
Terbaik dari segala yg terbaik
Oooo jadi begitu y bro, keren nyongkolan ternyata,,,
Posting Komentar